Di Antara Lumpur dan Harapan: Balai Pengajian Peunaron Baru Bangkit Bersama NU Peduli PWNU Jateng
Aceh Timur - Di sebuah sudut Desa Peunaron Baru, Aceh Timur, sisa-sisa lumpur banjir masih menyimpan cerita pilu. Bangunan yang dulu menjadi pusat belajar Al-Qur’an anak-anak kini perlahan bangkit kembali. Balai pengajian itu hancur diterjang banjir bandang, namun harapan tidak ikut hanyut.
Ustadz Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Peunaron Baru, Ismail Saleh, mengenang bagaimana tempat tersebut dahulu menjadi ruang penuh lantunan ayat suci. Sekitar 40 hingga 50 anak rutin belajar di sana, mulai dari Iqra’, Juz Amma, hingga Al-Qur’an.
“Dulu ini balai pengajian. Anak-anak belajar setiap hari. Tapi setelah banjir beberapa waktu lalu, semuanya hancur. Kami sebenarnya sudah beriktikad membangun kembali, hanya saja terkendala anggaran,” tutur Ismail, Senin (19/1/2026).
Banjir bandang merobohkan bangunan balai hingga tenggelam sekitar 4,5 meter. Rumah di sampingnya ikut bergeser ke belakang, dapurnya hancur lebur. Kitab-kitab Iqra’, Al-Qur’an, dan Juz Amma tak tersisa, hanyut disapu derasnya arus air. Sejak saat itu, seluruh kegiatan pendidikan keagamaan terpaksa diliburkan.
“Kalau dipindah ke rumah, kondisinya masih lembab. Harus diberi alas berlapis, sementara kami tidak punya,” ungkapnya lirih.
Di tengah keterbatasan itu, secercah harapan datang. Relawan NU Peduli Kemanusiaan PWNU Jawa Tengah hadir membantu membangun kembali balai pengajian tersebut. Kehadiran mereka disambut haru oleh warga dan para pengajar.
“Alhamdulillah, datang saudara-saudara kami dari Jawa Tengah melalui NU Peduli Kemanusiaan. Ini sangat berarti agar pendidikan anak-anak bisa berlanjut,” ujarnya.
Sebelum bencana, aktivitas TPQ berjalan dengan sistem dua sif. Sif pertama dilaksanakan selepas Ashar hingga menjelang Maghrib untuk pembelajaran Iqra’. Sementara sif kedua berlangsung selepas Maghrib hingga pukul 21.00 WIB dengan materi tajwid dan tartil.
“Pengajarnya ada tiga orang. Dua orang mengajar sore hari, dan saya sendiri mengajar malam hari,” kata Ismail, yang kini turut bergotong royong membangun balai bersama warga sekitar.
Materi pembelajaran di TPQ Peunaron Baru tidak hanya membaca Al-Qur’an. Anak-anak juga diajarkan fikih dasar, tata cara wudhu dan shalat, hingga pemulasaraan jenazah. Semua itu menjadi bekal penting bagi generasi muda desa.
Saat ini, kebutuhan mendesak masih banyak: Al-Qur’an, kitab Iqra’, Juz Amma, meja mengaji, lemari penyimpanan mushaf, hingga tikar. Namun bagi Ismail, yang terpenting adalah keberlanjutan pendidikan.
“Kami berharap anak-anak bisa membaca Al-Qur’an dengan makhraj dan tajwid yang benar, memahami shalat dan hukumnya. Tidak harus sempurna, tapi cukup menjadi bekal agar generasi berikutnya lebih baik dalam agama dan kehidupannya,” pungkasnya.
LAZISNU Jawa Tengah terus membuka ruang partisipasi publik bagi masyarakat yang ingin turut membantu saudara-saudara di Aceh-Sumatra melalui donasi kemanusiaan.
Donasi dapat disalurkan melalui:
BSI 2000770003
BCA 7830777355
a.n. LAZISNU Jawa Tengah
Cp: 082222200256
Pewarta: Nazlal Firdaus Kurniawan
Editor: Lukman Hakim
Foto: Saiful Amar