Gebyar Kaligrafi Ramadhan, Lesbumi dan Ansor Dorong Narasi Budaya dan Ekonomi Kreatif
Kota Salatiga - Sarasehan Kebudayaan dalam rangka Gebyar Seni Kaligrafi Ramadhan 1447 H sekaligus peringatan 20 tahun Sanggar Alif Salatiga berlangsung meriah pada Senin (9/3/2026). Kegiatan ini digelar atas dukungan Lesbumi PWNU Jawa Tengah bersama PC GP Ansor Kota Salatiga.
Forum yang digelar secara sederhana tersebut menghadirkan diskusi mendalam tentang karya seni, proses kreatif, serta bagaimana manusia memberi makna pada ciptaannya. Sejumlah tokoh nasional dan internasional hadir sebagai pemateri, di antaranya Habiburrahman El Shirazy, Kholison Syafi'i, Mohammad Shidqon Prabowo, Robet Nasrullah, serta Abdul Chamim dari Gentong Miring Gallery Lasem.
Dalam paparannya, Habiburrahman El Shirazy menekankan pentingnya kemampuan bernarasi dalam membangun kekuatan kebudayaan sebuah bangsa. Menurutnya, banyak negara secara strategis menyisipkan nilai budaya melalui film, sastra, hingga musik.
“Negara yang memiliki kemampuan bernarasi kuat mampu menyebarkan pengaruh budayanya ke berbagai negara. Sebaliknya, bangsa yang lemah dalam narasi dan imajinasi akan mudah menjadi masyarakat konsumtif terhadap produk budaya luar,” jelasnya.
Sementara itu, Mohammad Shidqon Prabowo menyampaikan bahwa organisasi Ansor terus mendorong penguatan ekonomi kreatif berbasis potensi kader. Salah satu langkahnya adalah mengembangkan katalog digital yang memuat berbagai produk lokal anggota.
“Ansor ingin mendorong kader untuk mengembangkan produk kreatif, termasuk karya seni seperti lukisan dan kaligrafi. Dengan katalog digital, produk-produk tersebut bisa lebih mudah diakses masyarakat luas,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya kesadaran terhadap hak kekayaan intelektual di era digital, mengingat potensi penjiplakan karya semakin terbuka.
Dalam sesi lainnya, ulama sekaligus pelukis kaligrafi internasional Robet Nasrullah menjelaskan bahwa karya kaligrafi tidak hanya soal keindahan visual, tetapi juga harus memiliki narasi dan makna yang dapat dipahami oleh penikmatnya.
“Lukisan kaligrafi perlu ditempatkan dalam ruang narasi. Ketika penikmat memahami cerita di balik karya itu, maka akan lahir pengetahuan baru dan apresiasi yang lebih dalam,” katanya.
Ia menambahkan bahwa selain nilai spiritual dan estetika, karya seni juga memiliki peluang ekonomi yang menjanjikan jika dikelola dengan baik.
Ketua Lesbumi PWNU Jawa Tengah Abdul Ghani menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi ruang pertemuan antara seniman, budayawan, dan aktivis organisasi untuk memperkuat ekosistem kebudayaan.
“Lesbumi memiliki tanggung jawab untuk merawat tradisi sekaligus mendorong lahirnya kreativitas baru. Seni, termasuk kaligrafi, harus terus dibumikan agar tidak hanya hidup sebagai karya estetika, tetapi juga memberi dampak ekonomi bagi para pelakunya,” ungkapnya.
Menurutnya, penguatan ekosistem seni membutuhkan kolaborasi lintas disiplin, mulai dari seniman, akademisi, hingga organisasi masyarakat.
Sarasehan tersebut juga menyoroti tantangan seni di era modern. Perkembangan teknologi dinilai membuat jarak antara imajinasi seniman dan pemahaman masyarakat semakin lebar. Karena itu, pendekatan storytelling dinilai penting untuk menjembatani hubungan antara karya dan penikmat seni.
Melalui forum ini, para peserta berharap tradisi seni, khususnya kaligrafi Islam, dapat terus berkembang sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif yang berkelanjutan di era Society 5.0.
Editor: Nazlal Firdaus Kurniawan
.
Editor: Nazlal Firdaus Kurniawan
.