NU Peduli Jateng Gelar Rakor untuk Perkuat Sinergi Kemanusiaan se-Pekalongan Raya

NU Peduli Jateng Gelar Rakor untuk Perkuat Sinergi Kemanusiaan se-Pekalongan Raya

Tegal - 

Tegal, NU Online Jateng 

NU Peduli Kemanusiaan PWNU Jawa Tengah terus memperkuat kesiapsiagaan bencana di wilayah rawan. Upaya itu diwujudkan melalui rapat koordinasi (Rakor) Kemanusiaan se-Zona Pekalongan Raya yang digelar di Lasnur Convention Hall, Jalan Ahmad Yani, Slawi, Kabupaten Tegal, Ahad (15/2/2026).

 

Rakor tersebut dihadiri unsur Tanfidziyah PCNU se-Pekalongan Raya, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Iklim (LPBI), Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU), serta Lembaga Pendidikan Ma’arif NU (LP Ma’arif) di tingkat cabang. Kehadiran lintas lembaga ini menjadi bukti keseriusan NU dalam membangun sistem kemanusiaan yang terkoordinasi dan berkelanjutan.

 

Ketua NU Peduli Jawa Tengah, Muchammad Pudji Wibowo, menjelaskan bahwa rakor ini dilatarbelakangi oleh tingginya intensitas bencana di kawasan Pekalongan Raya yang kerap terdampak banjir, tanah longsor, dan bencana hidrometeorologi lainnya.

 

“NU Peduli sebagai gerakan kemanusiaan Nahdlatul Ulama memiliki tanggung jawab moral dan struktural untuk memastikan setiap respons kebencanaan berjalan cepat, tepat, terkoordinasi, serta dapat dipertanggungjawabkan,” tegas Pudji yang juga jabat Ketua LPBI PWNU Jateng.

 

Ia menyampaikan, rakor tingkat zona ini merupakan yang pertama kali digelar. Forum ini menjadi langkah awal untuk membangun kesamaan visi dan pola kerja antar lembaga NU dalam menghadapi kondisi darurat. Setelah Idulfitri 2026, kegiatan serupa direncanakan berlanjut di zona-zona lainnya.

 

“Oleh karena itu, kita memerlukan forum koordinasi seperti ini agar dapat memetakan potensi serta risiko bencana di masing-masing kabupaten dan kota di Zona Pekalongan Raya,” lanjutnya.

 

Tiga Agenda Utama

Pudji merinci, terdapat tiga agenda utama yang menjadi fokus pembahasan.

 

Pertama, menyepakati standar operasional NU Peduli di tingkat cabang agar setiap langkah penanganan bencana memiliki rujukan yang sama.

 

Kedua, menyinkronkan program-program tanggap darurat yang selama ini dijalankan oleh masing-masing lembaga agar tidak tumpang tindih.

 

Ketiga, menyeragamkan sistem pelaporan kegiatan dan keuangan, sekaligus memperkuat manajemen media agar kerja-kerja kemanusiaan NU dapat diketahui masyarakat luas.

 

“Selama ini kita banyak bekerja di lapangan, tetapi tidak semuanya terdokumentasi dan tersampaikan ke publik. Padahal, ini penting untuk membangun kepercayaan dan memperkuat gerakan,” ungkapnya.

 

Menurut Pudji, LPBI, LAZISNU, dan LP Ma’arif memiliki peran strategis dalam sistem ketanggapsiagaan NU. LPBI menjadi tulang punggung kerelawanan dan respons kebencanaan. LAZISNU berperan dalam penggalangan dan pengelolaan donasi umat. Sementara LP Ma’arif memiliki tingkat kerentanan tinggi karena banyak lembaga pendidikan berada di wilayah rawan bencana.

 

“Ketiga unsur ini harus berjalan dalam satu irama. Karena jika terjadi bencana, dampaknya bukan hanya pada masyarakat, tetapi juga pada lembaga pendidikan, ekonomi warga, dan kehidupan sosial,” jelasnya.

 

Menuju Sistem Terpadu 

Sebagai tindak lanjut, sinergi antar lembaga akan dirumuskan melalui forum rembug bersama di masing-masing zona. Dari sana akan disusun peta kerawanan bencana, potensi sumber daya, serta langkah-langkah penanganan mulai dari fase tanggap darurat, rehabilitasi, hingga rekonstruksi.

 

Ia menegaskan, target akhir dari rakor ini adalah terwujudnya standar operasional baku yang menjadi pedoman seluruh PCNU di Zona Pekalongan Raya.

 

“Harapannya, tidak ada lagi lembaga atau badan otonom yang bergerak sendiri-sendiri tanpa koordinasi. Warga NU sangat besar. Akan menjadi ironi jika saat bencana justru berjalan terpisah,” tandasnya.

 

​​
Ketua LAZISNU Jawa Tengah, Muhammad Mahsun saat berikan sambutan (Foto: Saiful Amar)

 

Sementara itu, Ketua LAZISNU Jawa Tengah, Muhammad Mahsun, menuturkan bahwa luasnya wilayah Jawa Tengah mendorong perlunya sistem zonasi berbasis eks-karesidenan. Zona Pekalongan Raya menjadi pilot project pertama.

 

“Kebetulan di beberapa daerah zona ini sedang terjadi bencana, sehingga perlu koordinasi yang lebih serius agar layanan kemanusiaan bisa lebih maksimal,” ujarnya.

 

Mahsun menekankan pentingnya pemetaan sejak pra-bencana, baik bencana alam, non-alam seperti wabah penyakit, maupun bencana kemanusiaan.

 

“NU ini besar. Di satu sisi bisa menjadi korban, tapi di sisi lain juga menjadi penolong. Karena itu kesiapan dari pra-bencana, tanggap darurat, hingga pascabencana harus terintegrasi,” jelasnya.

 

Ia berharap, jika satu zona sudah solid dan siap, maka dapat menjadi kekuatan besar dalam membantu kemanusiaan di wilayah lain.


Pewarta: Nazlal Firdaus Kurniawan/LTN PWNU Jateng
Foto: Saiful Amar/NU Online


.