NU Peduli Kemanusiaan Buka Sekolah Darurat di SDN Ketibung Aceh Timur

NU Peduli Kemanusiaan Buka Sekolah Darurat di SDN Ketibung Aceh Timur

Aceh Timur - Air masih menyisakan bekas di dinding-dinding ruang kelas SD Negeri Ketibung, Desa Bunin, Kecamatan Serba Jadi, Aceh Timur. Meski banjir bandang telah berlalu sebulan lalu, jejaknya masih terasa jelas—bukan hanya pada bangunan sekolah, tetapi juga pada semangat belajar anak-anak.

 
Kepala SDN Ketibung, Mahmudi, mengenang hari ketika air naik hingga menyentuh atap sekolah. Lumpur setinggi setengah meter memenuhi ruang kelas, merusak hampir seluruh fasilitas belajar. Meja, kursi, kusen, hingga alat-alat pembelajaran tak luput dari terjangan banjir.
 
“Sebulan pascabanjir baru anak-anak bisa masuk sekolah, itu pun belum kondusif. Buku-buku tidak ada karena rusak semua. Jadi kami belajar darurat,” tutur Mahmudi.
 
Dengan total 88 siswa—43 laki-laki dan 45 perempuan—aktivitas belajar lebih difokuskan pada pemulihan psikologis. Trauma menjadi tantangan besar bagi para guru, karena sebagian siswa masih menyimpan ketakutan setiap kali hujan turun.
 
“Kegiatan kami sekarang lebih ke menghilangkan trauma anak-anak. Yang kami butuhkan itu buku-buku, meja, kursi, dan fasilitas belajar lainnya,” lanjutnya.
 
Kondisi itulah yang menggerakkan Relawan NU Peduli Kemanusiaan PWNU Jawa Tengah untuk turun tangan. Pada Sabtu (24/1/2026), mereka menggelar sekolah darurat di SDN Ketibung sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan pendidikan anak-anak korban banjir.
 
Hasan, salah satu relawan NU Peduli, menjelaskan bahwa sekolah ini baru kembali aktif beberapa hari terakhir. Kehadiran relawan menjadi penguat, baik bagi siswa maupun para guru.
 
“Hari ini ada sekolah darurat di SDN Ketibung, selain itu kami juga bagikan seragam batik dan kaos olahraga tak lupa juga kami bagi snack agar anak-anak gembira. Ini bagian dari ikhtiar kami bersama relawan yang hampir satu bulan berada di sini. Insyaallah ke depan akan ada gelombang kedua, karena sebelumnya kami juga mengadakan sekolah darurat di tempat lain,” ungkap Hasan.
 
Menurutnya, esensi dari kegiatan ini bukan semata mengajar, tetapi membangun kembali harapan. Anak-anak korban bencana bukan sekadar penerima bantuan, melainkan bagian dari keluarga besar yang harus dijaga masa depannya.
 
“Mari membangun anak-anak kita. Mereka adalah keluarga kita, anak-anak kita,” tegasnya.
 
Menariknya, Desa Bunin dikenal sebagai salah satu desa dengan peradaban tertua di Aceh Timur. Di tengah nilai sejarah yang panjang, banjir bandang menjadi ujian berat bagi generasi mudanya. Namun, melalui gotong royong dan kepedulian, semangat belajar perlahan kembali tumbuh—menjadi tanda bahwa dari lumpur bencana, harapan tetap bisa disemai.

Pewarta: Nazlal Firdaus Kurniawan 
Editor: Lukman Hakim 
Foto: Saiful Amar 


.